Selasa, 06 April 2010

[SHARE INFO] HANDPHONE TRANSPARAN, bener gak nih??





Windows Mobile - merupakan konsep ponsel On one hand, sebagai ponsel yang konseptual, ponsel ini bukan hanya yang pertama, tetapi di sisi lain, ponsel ini salah satu fitur yang sangat mengesankan - yaitu perubahan tampilan dapat menyesuaikan dengan kondisi cuaca sekitar kita! Jadi, pada hari-hari cerah, layar akan benar-benar transparan, pada hari-hari hujan akan muncul fitur jatuhnya hujan pada seluruh bagiannya. Layarnya yang tembus pandang akan terlihat seperti sebuah jendela yang akan menampilkan berbagai cuaca kondisi cuaca.

sumber : www.kaskus.us

Tidak tahu informasi ini benar atau tidak, tapi kalau memang benar, berapa ya harga sebuah handphone yang mencengangkan ini?
Kalau untuk diri saya, handphone saya sudah cukup canggih dan cukup mahal. Bisa merogoh kocek saya begitu dalam kalau untuk membeli handphone model ini.
Bagaimana kalau Anda? Berminat untuk memilikinya???

Sabtu, 03 April 2010

[SHARE INFO] Tips Cara Merawat Flashdisk Agar Awet


Flashdisk dikenal sebagai pengganti disket yang kuno. Flashdisk hadir dengan ukuran yang kecil dan menawan, serta kapasitas penyimpanan yang terbilang cukup besar dibandingkan dengan ukurannya. Selain itu Flashdisk mempunyai keunggulan dalam kemudahannya menambah dan menghapus data.

Berikut ini ada sembilan cara merawat Flashdisk kesayangan Anda. Tips ini berguna untuk mengamankan data-data penting Anda yang tersimpan di dalam Flashdisk dan juga membantu menjaga dompet Anda tetap sehat.

1. Jauhkan dari medan magnet yang kuat.
Barang-barang elektronik seperti TV dan handphone sangat tidak baik untuk flashdisk. Untuk itu jangan pernah menyimpannya di dekat barang-barang sejenis yang memiliki kekuatan magnet yang besar. Terkadang kita sering lupa jika meletakkan flashdisk dan handphone di tempat yang sama di dalam tas. Nah, mulai sangat ini kalau ingin flashdisk Anda berumur panjang, jangan lagi menyimpannya di tempat yang sama.

2. Jangan terkena air.
Walaupun ada beberapa produsen flashdisk yang mengklaim bahwa produknya waterproof (tahan air), menjauhkan flashdisk dari sentuhan air tetap saja menjadi langkah yang paling aman. Daripada datanya hilang atau flashdisk-nya mengalami kerusakan, sehingga lebih baik jangan ambil resiko untuk hal ini.

3. Melakukan scanning virus.
Pada saat pengambilan data atau pemindahan data dari PC ke flashdisk, sangat mungkin bukan hanya data yang ikut berpindah, tetapi juga virus-virus yang terdapat dalam komputer. Terlebih apabila kita mengambil dan menyimpan data dari internet, flashdisk bisa dipenuhi dengan virus-virus yang sangat mengganggu. Jadi jangan lupa melakukan scanning virus secara berkala dengan perangkat lunak antivirus yang paling baru.

4. Lakukan proses eject dan stop.
Selalu lakukan proses eject dan stop sebelum mencabut flashdisk dari port usb komputer Anda. Selain bisa menjadikan flashdisk Anda rusak secara fisik, tidak melakukan proses eject dan stop juga dapat mempengaruhi kerusakan pada data-data yang ada di dalamnya.

5. Jauhkan dari tempat yang panas.
Semua barang elektronik tidak terkecuali flashdisk sangat rentan dengan yang namanya panas, apalagi bila terkena matahari langsung. Jadi usahakan tidak menyimpannya di tempat yang panas dan terkena sinar matahari langsung, misalnya meninggalkan flashdisk di mobil.

6. Hindari dari benturan yang keras.
Flashdisk yang terkena benturan keras, seperti jatuh berkali-kali memiliki resiko besar untuk kehilangan data atau akan mengalami kerusakan secara fisik. Jadi harus berhati-hati memegangnya jangan sampai jatuh di tempat yang keras.

7. Usahakan agar selalu tertutup.
Udara dan lingkungan kita penuh dengan kotoran dan debu. Jika flashdisk kita kotor maka dapat mengakibatkan proses baca tulis sering gagal. Sehingga apabila tidak sedang dipakai, usahakan agar selalu tertutup agar tidak kotor.

8. Minimalisir proses hapus tulis (write and delete).
Sama seperti kita, flashdisk juga memiliki usia. Artinya suatu saat flashdisk kita bisa mati dan tidak bisa digunakan lagi. Usia flashdisk berbeda-beda, tergantung kualitas flashdisk itu sendiri. Biasanya usia flashdisk antara 10.000 - 100.000 kali proses hapus tulis. Jadi usahakan untuk meminimalisir proses tersebut dan juga jangan melakukan editing langsung dari flashdisk. Atau jika Anda memiliki data yang banyak dan ingin meng-copy data tersebut ke dalam flashdisk, lebih baik data-data tersebut dikompres menjadi satu terlebih dahulu dengan menggunakan program yang sudah ada seperti Winzip, WinRar, atau program lain yang sejenis.

9. Berilah gantungan seperti gantungan kunci pada flashdisk Anda.
Ini sangat berguna agar Anda tidak tidak lupa dimana menyimpannya, karena bentuknya yang relatif kecil. Juga berguna untuk membantu tangan dalam memegang flashdisk yang ukurannya sangat kecil.


diunduh dari : www.kaskus.us

Kenali Cowok yang ada di Dekatmu

Pernah bete, menangis, bahkan ketawa-ketiwi gara-gara makhluk yang katanya berasal dari mars ini? Ya, memang makhluk ini agak membingungkan. Saat dia mengejar kita, kita menjauh, dia makin dekat. Saat kita mulai luluh karena perjuangannya, dia malah menjauh. Atau yang paling menyedihkan, saat kita menyukai makhluk ini, dia tak peka akan perasaan kita. Begitulah cowok. Tak pernah bisa kita miliki atu memiliki kita seutuhnya.
Serumit-rumitnya sifat dan sikap makhluk mars ini, tak bisa kita pungkiri ya kalo kita tetap saja butuh kehadiran mereka dalam hidup kita. Bukan hanya sebagai pacar, teman, sahabat dekat, bahkan teman curhat kita. Jadi tak heranlah kalo cowok bisa bikin kita rindu setengah mati [kaya lagu band yang vocalist nya hobi megangin kepala] oleh sifat mereka yang terkadang cuek, berantakan ceroboh, dan egois.
Eits, tapi… sebutuh-butuhnya kita dengan kehadiran mereka, tetep kita kudu selektif dong milih cowok mana yang tepat nih menjadi “teman” terbaik kita nantinya. Tidak ada salahnya kita mengenali cowok yang lagi deket sama kita, atau bahkan nih cowok kamu sendiri. Sejauh mana sih dia mencintai kita, tapi awas ketipu ya….
1. Cowok mengirimkan sms setiap hari, setiap pagi, setiap siang, setiap malam, atau bahkan secara continue.
Tandanya dia care sama kamu. Ingin menambah poin plus di matamu juga bisa jadi alasannya.
Karena : cowok itu jarang melakukan itu hal itu kalau hanya karena iseng atau gak ada kerjaan. Perhatikan cara sms dia secara bertahap deh, pasti kamu bisa tau “jurusannya” kemana ..heheh
2. Kalo cowok menggenggam tanganmu atau membelai lembut rambutmu setelah berantem.
Dia merasa bersalah telah membuat kamu marah.
Karena : cowok yang bener-bener cowok itu, tidak akan pernah tega jika cewek yang disayanginya marah karena dirinya sampai mengeluarkan air mata.
3. Kalo cowok bilang, “Apa sih yang enggak buat kamu?”.
Buat yang ini agak susah bedainnya ya, soalnya kan cowok itu digolongkan menjadi dua, cowok sejati dan cowok playboy sejati, hehe.
Karena : cowok sejati itu ingin sang cewek pujaannya tahu kalo dia siap memberikan waktunya. Tapi kalo si cowok playboy sejati sih biasanya disertai dengan gombalan-gombalan lagi. Waspada yaa cuy…susah bedainnya.
4. Kalo cowok menangis di hadapanmu atau menangis buat kamu.
Dia menggapmu “lebih”.
Karena : kodrat cowok itu pantang menangis.
5. Kalo cowok sering banget melanggar aturan-aturan yang kamu lontarkan.
Ada dua alasan. Satu, dia tidak nyaman dikendalikan sama kamu. Dua, dia sedang beradaptasi dengan sifatnya yang berbeda sama kamu.
Karena : cowok itu sebenarnya hanya ingin diarahkan, mereka sudah tahu mana yang baik atau yang buruk, tak perlulah dilarang sekuat hati [kecuali cowok yang tidak bisa menjaga komitmen ya]. Lebih pengertian adalah solusinya.


6. Kalo cowok mencintai Tuhan dan dia pernah membawa nama Tuhan dalam janjinya menemanimu.
Dia sangat pantas untuk dipertahankan.
Karena : hari gini cowok beragama banyak cing, tapi yang benar-benar tidak pernah melupakan Tuhannya, itulah cowok sejati.

Fakta yang ada tentang cowok nih…
• Cowok itu juga nangis.
• Cowok senang kalo bisa mendapatkan cewek berparas cantik, tapi sebenarnya mereka lebih menyukai cewek yang enak dipandang, rapi, dan bersih.
• Cowok memang terlihat suka sekali menggoda teman-teman cewek di kampusnya, tapi sebenarnya sebelum dia tidur, dia memikirkan hanya seseorang yang dia pedulikan.
• Cowok itu suka mendapatkan senyuman dari cewek.
• Cowok itu sulit menangkap pesan apa yang cewek mau, makanya kamu harus ngomong jelas apa yang kamu inginkan sama cowok.
• Cowok yang curhat ke cewek, dia ingin didengerin .
• Cowok tidak mempermasalahkan tinggi cewek, tapi agak mempermasalahkan berat badan cewek. Ayuk cepet-cepet diet..
• Cowok tidak suka cewek yang terlalu berlebihan dalam reaksi, aksi, perkataan, bahkan make up.
Jadi, girl… kenali deh cowok yang ada di deketmu, yang lagi PDKT atau bahkan cowok kamu sendiri. Apa dia benar-benar cowok sejati ?

Fina Ghoisi Ardillah

Jumat, 02 April 2010

Aku Mengerti jika Aku Wanita, Kekasihku

karya : Fina Ghoisi Ardillah
diterbitkan oleh Koran Pendidikan, Oktober 2008

Aku terbangun keesokan harinya karena suara mama mulai meninggi memanggil namaku. Saat itu matahari pun belum ingin menampakkan dirinya. Aku terbangun dengan mata sedikit tak ikhlas karena rasa kantuk yang menghinggap. Aku pun dengan malas mulai mengokohkan posisi dudukku di atas kasur. Pagi ini aku sepeti tak bertanggung jawab atas lagu indah yang aku lantunkan semalaman dengan berkeliling bersama warga perumahanku, sekarang malah aku sendiri yang tak ingin bangun dari tidur lelapku. Padahal sang kekasih sedang menungguku untuk bertemu dengannya pagi ini. Aku pun sedikit banyak terhanyut dengan rasa kantukku, sambil duduk di atas kasur dan menyandarkan kepalaku di dinding. Suara mama sayup-sayup terdengar di telingaku sebelah kanan. Aku pun tersadar dengan hari indah ini dan akhirnya kakiku memboyong tubuhku ke dalam kamar mandi.

Aku berjalan dengan semangat setelah kakiku beranjak pergi dari kamar mandi. Kaki panjangku ini mulai memasuki kamar bercatkan pink, itulah tempat yang selama ini membuatku betah berlama-lama di dalamnya. Itulah kamarku. Aku membuka lemari baju dan mulai sigap mengambil pakaian yang akan aku kenakan di pagi bahagia ini. Aku pun memilih baju lengan panjang berwarna putih bersih dan bergambar bunga dengan aksen elegan serta celana jeans lonceng yang sangat pantas untuk kakiku yang panjang. Aku melihat diriku di cermin dan akhirnya bibirku menghasilkan senyum yang sangat manis. Aku tak menyangka hari ini aku tampak cantik sekali dengan baju putih itu, padahal aku tak pernah lagi mengenakannya saat aku memasuki sekolah menengah atas.

Aku keluar kamar dan bergegas ke meja makan untuk meminum secangkir teh hangat yang disiapkan oleh mama. Tak ketinggalan sifat jailku pun sedikit mencubit pipi tembem adikku. Sambil sesekali meneguk teh hangat, aku berbincang dengan kakakku tentang kesannya pagi hari ini.
”Selamat pagi, Kak. Bagaimana pagimu? Apa yang kau rasakan saat kau membuka matamu hari ini?” sapaku dengan riang.
”Mmm, bagaimana ya? Hari ini aku merasa bahagia. Menyenangkan! Bagaimana dengamu?”

”Aku pun begitu. Meski dengan kantuk tapi aku merasa bahagia hari ini, Kak.”
Aku sudah siap untuk pergi bertemu dengan sang kekasih. Aku pun keluar rumah dan menutup pintu rumahku perlahan. Aku berjalan menjauhi rumahku. Sambil berjalan menuju ke tempat dimana aku bertemu dengan kekasihku, aku melantunkan lagi lagu indah itu di dalam hati. Tak terasa bibirku terus membentuk senyum.

Saat aku berjalan menuju tempat pertemuanku dengannya, aku melewati sebuah rumah milik keluarga Nasrani. Rumah itu adalah rumah tetanggaku. Rumah teman yang sebaya denganku. Rumah seorang bayi yang baru saja lahir dua hari yang lalu dari perut seorang teman sebayaku. Aku memperhatikan rumah itu dengan serius, rumah bercatkan hijau dan berpagar warna hijau juga. Rumah yang seharusnya kelihatan sangat asri dan damai. Tapi saat aku melihat dalam-dalam dengan mengikuti hatiku, aku melihat kesedihan. Ya, aku merasakan aura duka di sana.

Empat bulan lalu, perumahanku yang tentram digemparkan oleh berita seorang gadis yang saat berita itu terbang layaknya burung gereja dia sudah tidak lagi disebut gadis. Berita itu sangat menghebohkan warga. Kehebohan di otakku pun terbukti saat aku melihat seorang teman sebayaku dengan kedua mata dan sepasang kacamataku. Aku melihat dia sedang berbadan dua. Dia yang sebaya denganku berbadan dua? Ya, berbadan dua. Dan itu artinya dia hamil. Dia HAMIL.

Berita itu pun tak kunjung henti, makin hari makin ramai dibicarakan orang. Bahkan buah bibir itupun saat itu menjadi sebuah wejangan berharga bagi para remaja lainnya. Akhirnya berita pun tak hanya berkutat di dalam perumahan, bahkan warga kampung pun tahu akan hal itu. Meskipun warga kampung tak mengenal siapa dia, mereka pun tak mau ketinggalan berbuah bibir dengan warga lainya.

Empat bulan pun berlalu. Dua hari sebelum hari indah ini tiba, kabar bahwa si bayi telah lahir ke dunia menggemparkan bumi perumahanku untuk kedua kalinya. Bukan hanya kabar angin yang bertiup hampa, tapi kabar ini memang terjadi. Kabar ini fakta. Si mungil itu lahir. Aku pun tak tahu bagaimana wajah si mungil itu. Aku hanya melihat dari kejauhan, si mungil digendong oleh seorang wanita paruh baya. Warga lain pun tak tahu, karena untuk mendekati rumah itu saja mereka sudah enggan.

Saat aku tiba di tempat pertemuanku dengannya, aku terus saja memikirkan seorang teman sebayaku. Tiba-tiba saja aku meneteskan air dari kelopak mataku. Aku tak tahu rasanya hatiku seperti bergejolak. Bergejolak mengingat aku dan dia sama-sama masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Bergejolak karena memikirkan betapa berat dia menanggung beban itu. Rasa haru perlahan menyelimuti dadaku. Tapi hari ini aku harus bertemu sang kekasih. Aku harus melupakan perasaan ini.

Aku menggelar tikar di atas tanah yang kelihatannya bersih tak ada kotoran. Aku pun membuka lebar permadani tempat aku duduk untuk bertemu dengannya. Saat menunggu untuk bertemu dengannya, terlintas lagi pikiranku tentang seorang teman sebayaku itu. Otakku tiba-tiba saja mengajak hatiku bekerjasama untuk membuatku bertanya pada diriku, bagaimana kalau musibah seorang teman sebayaku itu menimpa diriku? Otakku pun sedikit mengilustrasikan jika musibah teman sebayaku itu menimpa hidupku. Hatiku ikut menggambarkan rasa sesal jika hal itu menimpa hidupku. Otak dan hatiku mulai menegangkan otot dan saraf-saraf dalam tubuhku. Mataku pun ikut bermain dalam kerjasama otak dan hatiku itu. Beberapa menit sebelum aku bertemu kekasihku, air mata turun perlahan sedikit membasahi pipiku. Aku bergegas mengambil tissue untuk menyeka air yang tak aku harapkan dan dengan cepat memoleskannya pada pipi dan mataku sebelum wanita tua di sampingku melihat.

Tiba-tiba aku mengerti kalau ragaku ini wanita. Jiwaku wanita juga. Rambutku terurai seperti wanita. Dadaku membesar seperti wanita. Aku wanita. Wanita yang harus menjaga wanitaku. Wanita yang harus menghargai wanitaku. Wanita yang harus mengerti kalau aku, raga, dan jiwaku adalah wanita. Wanita yang ada karena darah yang terus tumbuh di rahim ibuku. Wanita yang lahir ke dunia dengan penuh darah. Wanita yang matang dengan darah. Dan wanita yang kelak akan menciptakan bongkahan darah di rahim wanitaku. Tapi bongkahan darah itu tidak tumbuh untuk saat ini. Tidak saat usia sekolah menengahku. Aku harus menjaga wanitaku. Menjaganya dari jamahan tangan lelaki yang ingin menghancurkan remajaku. Aku sadar itu sangat penting.

Aku tahu kekasihku akan menjagaku. Kekasihku akan membawaku untuk selalu melihat dan merasakan bahwa kekasihku selalu ada untuk melihatku juga. Saat ini aku tahu diriku sangat berarti. Aku tak ingin masalah seburuk seorang teman sebayaku menimpaku saat ini. Meski suatu hari nanti aku akan menjalaninya, tapi aku ingin menjalaninya bukan sebagai musibah, tapi sebagi suatu kebahagiaan hidup.

Sudah waktunya. Sudah waktunya aku bertemu kekasihku. Semua orang berdiri di atas permadaninya, termasuk aku berdiri untuk kekasihku. Sebelum aku berbincang dengannya, aku pun tersenyum tanda aku siap bertemu dengannya.
”Allahu Akbar,” seru imam salat dengan suara nyaring.
Aku pun bertemu dengan kekasihku di pagi indah ini. Terima kasih Sang Kekasih, Engkau membuka hatiku di hari yang amat indah ini.
”Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaaha ilallahuallahu akbar, Allahu Akbar walillahhilham,” lantunku setelah aku bertemu denganNya.



Fina Ghoisi Ardillah
20 November 2007

[SHARE INFO] Jangan terlalu lama di depan PC

Hasil riset yang dilakukan National Institute of Occupational Safety and Health Los Angeles menunjukkan, hampir 88 persen dari seluruh pengguna komputer mengalami computer vision syndrome (CVS), yaitu suatu kondisi yang timbul karena kita terlalu lama memfokuskan mata ke layar komputer.

Ciri-ciri sindrom ini adalah pandangan kabur dan tak jarang sampai menyebabkan rasa nyeri di kepala, sakit leher, mata terasa lelah, kering, dan teriritasi serta sulit untuk kembali memfokuskan pandangan.

Jika Anda mengalaminya, sebaiknya mulailah melakukan langkah-langkah penanggulangan.

Seperti dilansir situs NBC5.com, Rabu (14/3/2007) ahli masalah mata (Optometrist) Dr. Jay Schlanger mengatakan, terlalu sering melihat layar komputer akan berdampak buruk pada mata.

“Mata kita tidak dikondisikan untuk terus-menerus melihat layar komputer, delapan jam sehari,” ujarnya.

Schlanger menyarankan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memakai kacamata dengan lensa khusus untuk komputer. “Beberapa perusahaan kini mulai membuat lensa yang bagian atasnya dirancang untuk melihat komputer, dan bagian bawahnya untuk membaca, ini dinamai kacamata kantor,” kata Schlanger.

Pengguna lensa kontak juga punya solusi, yaitu dengan mengganti lensa kontak generasi baru yang terbuat dari silikon hydrogel. “Silikon jenis ini memungkinkan daya transmisi oksigen yang lebih tinggi dibanding jenis lain,” ungkap Schlanger.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengalihkan pandangan dari layar komputer. Perbanyak mengalihkan pandangan pada tanaman-tanamn sekitar Anda. Minumlah banyak air putih selama di kampus, karena ini membantu tubuh agar tidak kekurangan cairan sehingga ada cukup persediaan air yang memudahkan tubuh menghasilkan air mata, dan menjaga agar mata tidak kering.

Sudut pandangan ke komputer juga harus pas, bagian atas layar komputer harus sejajar dengan mata. Sesuaikan tingkat terang/gelap layar, dan pastikan tidak ada pantulan yang menyilaukan dari sumber cahaya lain.

Jaga terus kesehatan mata kita ya, Agan dan Aganwati…. Maaf kalo repost ^-^

sumber: www.kaskus.us

Anggapan tentang Kegagalan Vista

[SHARE INFO]

Pengguna Vista dapat diklaifikasikan menjadi dua golongan, yakni. pemakai golongan pertama yang dengan senang hati memakai Vista tanpa keluhan apapun. Golongan kedua (dan jenis yang lebih banyak terdengar di industri computer) adalah pengguna yang “senang” mengkritik dan mengeluhkan setiap kekurangan yang ada di OS tersebut. Sebagian keluhan atas Vista disebabkan oleh pembuatan Vista yang kurang memuaskan dan kesalahan strategi marketing yang dilakukan Microsoft. Keluhan-keluhan ini merupakan reaksi dari gerakan anti Microsoft yang tidak puas atas sejarah, strategi bisnis, taktik dan pengumuman palsu Microsoft.

Dalam kasus Vista, mereka mengumumkan tiga pilar untuk Vista yaitu :
1. WinFS - yang berjanji merevolusioner cara pemakai berinteraksi dengan file di komputer
2. Aero - tampilan baru untuk Windows
3. Indigo - komponen untuk berinteraksi dengan web services

Vista ternyata hanya berhasil memberikan satu dari tiga pilar di atas, yaitu Aero yang membutuhkan hardware canggih dan akhirnya melambatkan kinerja komputer. Masih berhubungan dengan tiga pilar di atas, di bawah ini adalah 11 alasan mengapa Vista tidak banyak disukai:
1. Pemakai bingung
Sejak awal, pemakai mengeluh tentang banyaknya versi Vista yang dijual. Siapa yang membutuhkan semua varian ini? Yang dibutuhkan hanyalah satu versi sederhana (Home) dan satu versi yang memiliki semua fitur (Pro). Kebingungan ini tampaknya terjadi karena tidak ada karyawan Microsoft yang mengerti strategi pemasaran.
2. Ukuran source code
Terlalu besar sehingga menimbulkan kelemotan.
3. Komponen
Komponen yang hilang. WinFS, filesystem yang dijanjikan dan salah satu pilar utama Vista tidak datang dengan Vista. Pengembangan filesystem ini dimulai di tahun 1991, dan hingga kini masih belum terselesaikan.
4. Pemborosan baterai laptop
Hal ini seharusnya diperbaiki dengan source code terpisah dan hybrid hard disk (HHD). Tetapi, saat ini pemakai masih harus menggunakan SSD yang sangat mahal.
5. HHD
Industri HD pernah memberitahukan bahwa keuntungan generasi baru hard disk (HD) akan "membuat semua pemakai pindah ke Vista". Hal ini diumumkan dua tahun yang lalu, dan hingga kini masih belum ada kelanjutannya.
6. Stiker Vista Capable palsu
Kampanye "Windows Vista Capable" Microsoft adalah sebuah kegagalan marketing yang besar. Banyak computer dijual dengan stiker "Windows Vista Capable" yang ternyata tidak mampu mengoperasikan Vista.
7. Driver yang minim
Cukup mengherankan bahwa semua driver Windows yang ada di XP tidak kompatibel dengan Vista.
8. Tidak ada saran yang konsisten untuk pemakai, dan Microsoft tidak turun tangan
Beberapa orang mengatakan bahwa anda sebaiknya membeli komputer baru dengan Vista dan tidak melakukan upgrade dari XP, ada yang mengatakan upgrade boleh dilakukan. Microsoft seharusnya membuat sebuah situs khusus yang dapat menguji komputer dari internet dan menyarankan pemakai apakah mereka sebaiknya membeli komputer baru, atau melakukan upgrade.
9. XP mania
Semua orang cinta XP, dan ingin mempertahankan OS ini. Hal ini membuat Vista tampak lebih buruk lagi. Terlebih lagi, banyak sekali laporan yang mengatakan bahwa pemakai kembali menggunakan XP setelah mencoba Vista.
10. Pemasaran yang tanggung
Tidak seperti peluncuran Windows versi sebelumnya, Microsoft tidak banyak memasarkan Vista. Walaupun ada beberapa poster dan iklan TV untuk Vista, pemasaran Vista tidak dapat dibandingkan dengan peluncuran beberapa versi sebelumnya, di mana mereka berhasil mendapatkan perhatian orang di seluruh dunia.
11. Kinerja
Anda tidak seharusnya mengeluarkan sebuah OS baru yang dikembangkan selama lebih dari empat tahun dengan kinerja yang lebih buruk dari OS sebelumnya. Kinerja seharusnya merupakan prioritas teratas.

sumber: www.kaskus.us

Kamis, 01 April 2010

Jurus Maut Hidupku dari Seorang Paruh Baya


karya: Fina Ghoisi Ardillah
diterbitkan oleh GagasMedia dengan judul buku "Catatan Kecil Tentang Dia"


“Aduh, tak pernah ia tak hadir,” keluh seorang kawan saat melihat sosok perempuan berjilbab itu memasuki ruangan yang saat itu belum tersentuh oleh lantai keramik. Perempuan setengah baya yang selalu mengenakan jilbab berwarna coklat, cream, atau putih. Aku hafal benar warna jilbab yang selalu ia kenakan agar terlihat cocok dengan warna pakaian yang sering melekat di tubuhnya untuk menandai statusnya. Ia tampak sangat sederhana dengan paduan gaya dan senyum yang tak penah hilang dari garis bibirnya. Namun, hampir semua orang di ruangan itu mengeluh dengan kedatangannya, kecuali aku, Fina Ghoisi Ardillah, gadis 16 tahun dengan kacamata berbingkai silver.

Aku tak pernah melupakan saat ia pertama kali memintaku memperkenalkan diri di depan ruangan yang bercatkan putih kusam dengan banyak coretan pensil di beberapa bagian dinding. Aku merasa nyaman saat ia menanyakan nama panjangku, nama panggilanku, berlanjut menanyakan alamat rumahku, dan sampai pada satu pertanyaan yang sangat membuatku sedikit ragu untuk menjawabnya : asal sekolah menengah pertamaku. Yah, pertanyaan itu membuatku sedikit kaku, tapi semua orang dalam ruangan itu juga akan dilimpahi pertanyaan yang sama. Aku pun mencoba tegas menjawab pertanyaan perempuan paruh baya itu, ”Dari SMP Negeri C Malang”. Aku tahu ini bukanlah hal yang menakutkan untuk dijawab, bahkan ada seorang yang berdecak hingga suara decakannya terdengar olehku yang saat itu berdiri di depan papan hitam. Ada pula beberapa lelaki yang sedikit bersorai dan beberapa gadis yang terlihat berbisik entah membicarakan aku atau membicarakan sinetron remaja yang mereka lihat semalam.

Saat itu terjadi, aku adalah lulusan sekolah menengah pertama negeri yang sangat populer di kotaku. Mantan sekolahku adalah sekolah dengan tingkat prestasi tertinggi di antara sekolah menengah pertama negeri lainnya. Mantan sekolahku adalah sekolah yang menampung pelajar-pelajar dengan nilai terbaik. Mantan sekolahku adalah sekolah dengan berbagai pengajar profesional. Mantan sekolahku adalah sekolah dengan pelajar yang memiliki kelebihan kemampuan akademis yang sudah diakui oleh masyarakat di kotaku. Begitulah anggapan masyarakat di kotaku tentang mantan sekolahku. Sebuah anugerah aku dapat bersekolah di sana.

Seharusnya aku tak perlu ragu menjawab pertanyaan yang dilontarkan perempuan paruh baya itu. Aku memiliki status sebagai alumnus sebuah sekolah yang bermutu. Tapi tidak. Tidak seperti itu yang aku rasakan saat aku dinyatakan sebagai warga baru SMA Negeri i Malang. Perasaan yang tak pernah aku inginkan. Bahkan kusebut itu adalah mimpi yang tidak pernah aku mimpikan atau bahkan aku pikirkan. Aku malu dengan statusku sebagai alumnus sekolah terbaik di kotaku dan kini sah menjadi warga sekolah menengah atas yang bahkan tidak pernah aku perhitungkan keberadaannya di kotaku. Aku kecewa.

”Jangan lengah dan putus asa, kita semua berdoa agar kau dapat menunjukkan kemampuanmu di sekolah barumu, SMA Negeri i Malang. Saya yakin kau pasti bisa menjadi yang terbaik,” perempuan paruh baya itu menjawab dengan doa yang ia berikan untukku. Ia berdoa untukku yang memang saat itu sedang mengalami krisis percaya diri. Aku merasa ia juga merasakan kekecewaan yang aku rasakan. Doanya benar-benar terasa sangat tulus. Aku memandangnya sejenak dan memberikan senyumku padanya. Saat itulah aku mulai menyukainya. Menyukai, menghormati, dan menyayanginya sejak awal pertemuanku dengannya di ruangan bercatkan putih kusam dengan banyak coretan pensil di beberapa bagian dindingnya.

Waktuku terus berlalu begitu saja, tak ada hasil yang membuatku puas. Hanya berkutat pada buku-buku pelajaran, ulangan harian, tugas-tugas, dan kegiatan-kegiatan yang menyita waktu. Ya, hal-hal simple dan monoton yang selalu dilakukan oleh pelajar-pelajar pada umumnya. Sebenarnya ada keinginan dalam hatiku untuk berbuat sesuatu hal yang memuaskan batinku. Hal yang bisa menjadi cerita hidupku semasa SMA, tapi aku belum menemukan hal itu.

Waktuku makin seru meninggalkanku tanpa hadiah yang ia tinggalkan. Aku masih terus saja menjadi pelajar yang monoton. Buku-buku pelajaran, ulangan harian, tugas-tugas, dan kegiatan-kegiatan yang makin lama membosankan. Hampa.

Seperti biasa kegiatan berlangsung dengan lancar saat perempuan paruh baya itu berada dalam ruangan bercatkan putih kusam ini. Perempuan paruh baya itu berjalan mendekat ke arahku di sela-sela akhir kegiatan kami dalam ruangan itu.

”Apa kau mau mengikuti ini?” tanyanya sambil menyodorkan selembar kertas putih bertuliskan judul Lomba Penulisan Esai Tingkat SMA/MA se-Kota Malang yang ditulis dengan font lebih besar daripada tulisan di bawahnya

Aku? Mengapa harus aku? Aku saja tak tahu apa itu esai? Setahuku esai adalah kumpulan pertanyaan yang harus dijawab dengan jawaban yang singkat dan jelas. Tulisan ”esai” memang sering aku temukan di lembar soal ujian. Otakku bertanya-tanya, apa itu esai. Ya, tanpa berpikir lagi aku beranikan meletakkan gengsiku untuk bertanya pada perempuan paruh baya itu.

”Esai adalah tulisan dimana penulis menuliskan tanggapannya terhadap suatu hal dengan berdasarkan pada sudut pandang penulis sendiri. Aku tahu kau bisa menulis esai. Diksimu sangat baik. Aku pikir ini akan menjadi pengalaman bagimu.”

Aku mendengarkannya sambil terus menatap selembar kertas putih yang ada di tanganku. Aku merasa bodoh. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku belum pernah melakukan ini. Sampai akhirnya bibirku menyanggupi ajakan perempuan paruh baya itu dengan otak yang setengah sadar.

Tiga hari saja waktuku yang diberikan perempuan paruh baya itu untuk belajar menulis tulisan yang belum pernah aku coba menulisnya. Aku memilih tema pendidikan untuk tulisanku. Tapi di hari keempat waktuku, aku belum juga menuliskan satu kata pun. Aku tak tahu bagaimana dan kalimat seperti apa yang harus aku gunakan.

Pukul tujuh malam di hari keempatku, aku duduk di depan layar komputer sambil terus mencoba mencari kalimat yang tepat untuk kalimat pertama paragraf pertama dari tulisanku ini. Setengah jam berlalu dan hanya aku habiskan di depan layar komputerku. Aku mencoba beranjak pergi meninggalkan kursi depan komputerku dan membuka beberapa majalah. Tidak hanya aku buka saja, tiap artikel di dalamnya aku baca dengan teliti sambil mencari kata yang indah untuk tulisanku. Aku sudah seperti pelukis yang sedang mencari inspirasi. Atau seperti seekor induk burung yang sedang mencari mangsa untuk sarapan paginya bersama anak-anaknya. Ya, masih saja aku membolak-balikkan lembaran kertas itu, terus dan tetap mencari kata-kata indah untuk tulisanku.

Setengah jam kemudian otakku sudah menampung banyak diksi indah yang dapat menjadi gudang kata dan siap untuk didistribusikan ke tulisanku. Aku kembali duduk di kursi depan komputerku. Mataku tertuju pada layar komputer yang menungguku untuk menulis sebuah karya perdana. Aku mulai menuliskan ide dan tanggapanku serta menghiasnya dengan karakter penulisan yang aku ciptakan sendiri.

Dua jam berlalu, tulisanku selesai. Tiga lembar dengan sedikit menyentuh lembar keempat sudah aku selasaikan. Tuhan, aku benar-benar tak percaya. Inikah tulisanku? Jika kau tahu betapa kagetnya aku, aku belum pernah menulis sebuah tulisan dengan gaya bahasa seperti ini. Aku bisa. Senyumku tampak menghiasi wajahku yang lelah.

Hari kelimaku. Tulisanku sudah berada ditangan setelah perempuan paruh baya itu membaca tulisanku dan mengomentari kesalahan-kesalahan yang ditulis oleh penulis amatir ini. Tapi karena keterlambatanku menulis, kelalaianku dan berkah Tuhan belum sampai untukku, aku tak punya kesempatan memberikan karyaku pada panitia Lomba Esai karena batas waktu yang mereka berikan telah berakhir. Kemarin, di hari keempatku adalah batas waktu terakhir pengumpulan karya. Aku sedikit kecewa. Wanita paruh baya itu juga memperlihatkan wajahnya yang sedikit kecewa. Wanita paruh baya yang hari ini mengenakan jilbab berwarna coklat menyarankan padaku untuk menelpon panitia lomba dan menanyakan apakah karya perdanaku ini bisa disertakan dalam lomba itu.

Sungguh Tuhan benar-benar mencintaiku, panitia lomba masih menerima karya yang melampaui batas waktu yang ditentukan karena peserta lomba belum mencapai target yang ditentukan. Oh, Tuhan, aku percaya ini kesempatan untukku. Aku pun bergegas pergi mendatangi tempat pendaftaran Lomba Esai dengan karya perdana di tanganku.

Satu minggu harus aku tunggu untuk mendengar pengumuman 5 peserta lomba yang lolos babak penyisihan. Aku menunggu telpon rumahku berdering. Tapi tak ada tanda-tanda itu. Ya, kesempatanku kali ini tak membuatku menjadi pemenang. Aku tak mengharapkan lagi suara dering telpon rumahku.

Ruangan ini tetap berjalan seperti hari-hari biasa. Kegiatan yang berlangsung juga tetap monoton. Waktu untuk istirahat menjadi waktu yang terbaik untukku. Aku dan beberapa gadis asik membicarakan acara televisi yang semalam kami tonton di salah satu channel swasta. Saat kami masih asik bersaut-sautan menceritakan acara televisi itu, handphone di saku sebelah kanan rokku bergetar tanpa dering. Secepatnya aku merogoh saku sebelah kanan rokku dan mengambil handphone yang bergetar seru meminta untuk segera direspon olehku. Aku melihat pada layar handphone. Terlihat tulisan ”mama” berkedip di layar handphone beriringan dengan lampu layar yang menyala.

”Ada apa, Ma?” tanyaku mengajak perempuan pujaanku memulai pembicaraan.

“Ya Tuhan, benarkah? Terima kasih, Ma. Aku akan sampaikan ini padanya,” jawabku setelah mendengar kabar dari suara perempuan pujaanku.

Aku? Kini aku gadis 18 tahun yang mengisi hari-hari SMA bersama kegiatan menulisku untuk berbagai lomba dan media cetak. Aku adalah gadis yang mencoba merintis hidup dari kumpulan kata-kata yang menjadi kalimat, kalimat-kalimat menjadi paragraf, dan rangkaian paragraf yang menjadi sebuah tulisan.

Kisah hidupku dan pengalamanku tak lepas dari perannya. Peran perempuan paruh baya itu. Perempuan paruh baya itulah yang menemukan kelebihan dari banyaknya sisi kurangku. Perempuan paruh baya itulah yang mencarikan dan membawa kepuasan untuk batinku. Perempuan paruh baya nan sederhana itulah yang terus mangajakku mengejar kemenangan bagi masa depanku. Perempuan paruh baya yang selalu memotivasi sisi gelapku agar aku menemukan cahayaku. Sampai saat aku menuliskan kisahku ini, perempuan paruh baya itulah yang setia menyodorkan lembaran padaku seperti kali pertama ia menyodorkannya padaku. Banyak sekali lembaran yang ia perlihatkan padaku dan tetap berkata ”Apa kau mau mengikuti ini?”

Malam ini, aku tak melupakannya, kemarin pun aku tak lupa. Bahkan esok hari saat aku harus meninggalkan SMA Negeri i Malang, aku tak melupakan sosok perempuan setengah baya yang berjilabab itu. Sampai suatu hari saat Tuhan mengabulkan citaku, motivasi dari perempuan paruh baya itulah yang mendorongku. Aku dan kisahku bersama ia, sang guru tercinta, Bu Anik.


Fina Ghoisi Ardillah