Kamis, 01 April 2010

Jurus Maut Hidupku dari Seorang Paruh Baya


karya: Fina Ghoisi Ardillah
diterbitkan oleh GagasMedia dengan judul buku "Catatan Kecil Tentang Dia"


“Aduh, tak pernah ia tak hadir,” keluh seorang kawan saat melihat sosok perempuan berjilbab itu memasuki ruangan yang saat itu belum tersentuh oleh lantai keramik. Perempuan setengah baya yang selalu mengenakan jilbab berwarna coklat, cream, atau putih. Aku hafal benar warna jilbab yang selalu ia kenakan agar terlihat cocok dengan warna pakaian yang sering melekat di tubuhnya untuk menandai statusnya. Ia tampak sangat sederhana dengan paduan gaya dan senyum yang tak penah hilang dari garis bibirnya. Namun, hampir semua orang di ruangan itu mengeluh dengan kedatangannya, kecuali aku, Fina Ghoisi Ardillah, gadis 16 tahun dengan kacamata berbingkai silver.

Aku tak pernah melupakan saat ia pertama kali memintaku memperkenalkan diri di depan ruangan yang bercatkan putih kusam dengan banyak coretan pensil di beberapa bagian dinding. Aku merasa nyaman saat ia menanyakan nama panjangku, nama panggilanku, berlanjut menanyakan alamat rumahku, dan sampai pada satu pertanyaan yang sangat membuatku sedikit ragu untuk menjawabnya : asal sekolah menengah pertamaku. Yah, pertanyaan itu membuatku sedikit kaku, tapi semua orang dalam ruangan itu juga akan dilimpahi pertanyaan yang sama. Aku pun mencoba tegas menjawab pertanyaan perempuan paruh baya itu, ”Dari SMP Negeri C Malang”. Aku tahu ini bukanlah hal yang menakutkan untuk dijawab, bahkan ada seorang yang berdecak hingga suara decakannya terdengar olehku yang saat itu berdiri di depan papan hitam. Ada pula beberapa lelaki yang sedikit bersorai dan beberapa gadis yang terlihat berbisik entah membicarakan aku atau membicarakan sinetron remaja yang mereka lihat semalam.

Saat itu terjadi, aku adalah lulusan sekolah menengah pertama negeri yang sangat populer di kotaku. Mantan sekolahku adalah sekolah dengan tingkat prestasi tertinggi di antara sekolah menengah pertama negeri lainnya. Mantan sekolahku adalah sekolah yang menampung pelajar-pelajar dengan nilai terbaik. Mantan sekolahku adalah sekolah dengan berbagai pengajar profesional. Mantan sekolahku adalah sekolah dengan pelajar yang memiliki kelebihan kemampuan akademis yang sudah diakui oleh masyarakat di kotaku. Begitulah anggapan masyarakat di kotaku tentang mantan sekolahku. Sebuah anugerah aku dapat bersekolah di sana.

Seharusnya aku tak perlu ragu menjawab pertanyaan yang dilontarkan perempuan paruh baya itu. Aku memiliki status sebagai alumnus sebuah sekolah yang bermutu. Tapi tidak. Tidak seperti itu yang aku rasakan saat aku dinyatakan sebagai warga baru SMA Negeri i Malang. Perasaan yang tak pernah aku inginkan. Bahkan kusebut itu adalah mimpi yang tidak pernah aku mimpikan atau bahkan aku pikirkan. Aku malu dengan statusku sebagai alumnus sekolah terbaik di kotaku dan kini sah menjadi warga sekolah menengah atas yang bahkan tidak pernah aku perhitungkan keberadaannya di kotaku. Aku kecewa.

”Jangan lengah dan putus asa, kita semua berdoa agar kau dapat menunjukkan kemampuanmu di sekolah barumu, SMA Negeri i Malang. Saya yakin kau pasti bisa menjadi yang terbaik,” perempuan paruh baya itu menjawab dengan doa yang ia berikan untukku. Ia berdoa untukku yang memang saat itu sedang mengalami krisis percaya diri. Aku merasa ia juga merasakan kekecewaan yang aku rasakan. Doanya benar-benar terasa sangat tulus. Aku memandangnya sejenak dan memberikan senyumku padanya. Saat itulah aku mulai menyukainya. Menyukai, menghormati, dan menyayanginya sejak awal pertemuanku dengannya di ruangan bercatkan putih kusam dengan banyak coretan pensil di beberapa bagian dindingnya.

Waktuku terus berlalu begitu saja, tak ada hasil yang membuatku puas. Hanya berkutat pada buku-buku pelajaran, ulangan harian, tugas-tugas, dan kegiatan-kegiatan yang menyita waktu. Ya, hal-hal simple dan monoton yang selalu dilakukan oleh pelajar-pelajar pada umumnya. Sebenarnya ada keinginan dalam hatiku untuk berbuat sesuatu hal yang memuaskan batinku. Hal yang bisa menjadi cerita hidupku semasa SMA, tapi aku belum menemukan hal itu.

Waktuku makin seru meninggalkanku tanpa hadiah yang ia tinggalkan. Aku masih terus saja menjadi pelajar yang monoton. Buku-buku pelajaran, ulangan harian, tugas-tugas, dan kegiatan-kegiatan yang makin lama membosankan. Hampa.

Seperti biasa kegiatan berlangsung dengan lancar saat perempuan paruh baya itu berada dalam ruangan bercatkan putih kusam ini. Perempuan paruh baya itu berjalan mendekat ke arahku di sela-sela akhir kegiatan kami dalam ruangan itu.

”Apa kau mau mengikuti ini?” tanyanya sambil menyodorkan selembar kertas putih bertuliskan judul Lomba Penulisan Esai Tingkat SMA/MA se-Kota Malang yang ditulis dengan font lebih besar daripada tulisan di bawahnya

Aku? Mengapa harus aku? Aku saja tak tahu apa itu esai? Setahuku esai adalah kumpulan pertanyaan yang harus dijawab dengan jawaban yang singkat dan jelas. Tulisan ”esai” memang sering aku temukan di lembar soal ujian. Otakku bertanya-tanya, apa itu esai. Ya, tanpa berpikir lagi aku beranikan meletakkan gengsiku untuk bertanya pada perempuan paruh baya itu.

”Esai adalah tulisan dimana penulis menuliskan tanggapannya terhadap suatu hal dengan berdasarkan pada sudut pandang penulis sendiri. Aku tahu kau bisa menulis esai. Diksimu sangat baik. Aku pikir ini akan menjadi pengalaman bagimu.”

Aku mendengarkannya sambil terus menatap selembar kertas putih yang ada di tanganku. Aku merasa bodoh. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku belum pernah melakukan ini. Sampai akhirnya bibirku menyanggupi ajakan perempuan paruh baya itu dengan otak yang setengah sadar.

Tiga hari saja waktuku yang diberikan perempuan paruh baya itu untuk belajar menulis tulisan yang belum pernah aku coba menulisnya. Aku memilih tema pendidikan untuk tulisanku. Tapi di hari keempat waktuku, aku belum juga menuliskan satu kata pun. Aku tak tahu bagaimana dan kalimat seperti apa yang harus aku gunakan.

Pukul tujuh malam di hari keempatku, aku duduk di depan layar komputer sambil terus mencoba mencari kalimat yang tepat untuk kalimat pertama paragraf pertama dari tulisanku ini. Setengah jam berlalu dan hanya aku habiskan di depan layar komputerku. Aku mencoba beranjak pergi meninggalkan kursi depan komputerku dan membuka beberapa majalah. Tidak hanya aku buka saja, tiap artikel di dalamnya aku baca dengan teliti sambil mencari kata yang indah untuk tulisanku. Aku sudah seperti pelukis yang sedang mencari inspirasi. Atau seperti seekor induk burung yang sedang mencari mangsa untuk sarapan paginya bersama anak-anaknya. Ya, masih saja aku membolak-balikkan lembaran kertas itu, terus dan tetap mencari kata-kata indah untuk tulisanku.

Setengah jam kemudian otakku sudah menampung banyak diksi indah yang dapat menjadi gudang kata dan siap untuk didistribusikan ke tulisanku. Aku kembali duduk di kursi depan komputerku. Mataku tertuju pada layar komputer yang menungguku untuk menulis sebuah karya perdana. Aku mulai menuliskan ide dan tanggapanku serta menghiasnya dengan karakter penulisan yang aku ciptakan sendiri.

Dua jam berlalu, tulisanku selesai. Tiga lembar dengan sedikit menyentuh lembar keempat sudah aku selasaikan. Tuhan, aku benar-benar tak percaya. Inikah tulisanku? Jika kau tahu betapa kagetnya aku, aku belum pernah menulis sebuah tulisan dengan gaya bahasa seperti ini. Aku bisa. Senyumku tampak menghiasi wajahku yang lelah.

Hari kelimaku. Tulisanku sudah berada ditangan setelah perempuan paruh baya itu membaca tulisanku dan mengomentari kesalahan-kesalahan yang ditulis oleh penulis amatir ini. Tapi karena keterlambatanku menulis, kelalaianku dan berkah Tuhan belum sampai untukku, aku tak punya kesempatan memberikan karyaku pada panitia Lomba Esai karena batas waktu yang mereka berikan telah berakhir. Kemarin, di hari keempatku adalah batas waktu terakhir pengumpulan karya. Aku sedikit kecewa. Wanita paruh baya itu juga memperlihatkan wajahnya yang sedikit kecewa. Wanita paruh baya yang hari ini mengenakan jilbab berwarna coklat menyarankan padaku untuk menelpon panitia lomba dan menanyakan apakah karya perdanaku ini bisa disertakan dalam lomba itu.

Sungguh Tuhan benar-benar mencintaiku, panitia lomba masih menerima karya yang melampaui batas waktu yang ditentukan karena peserta lomba belum mencapai target yang ditentukan. Oh, Tuhan, aku percaya ini kesempatan untukku. Aku pun bergegas pergi mendatangi tempat pendaftaran Lomba Esai dengan karya perdana di tanganku.

Satu minggu harus aku tunggu untuk mendengar pengumuman 5 peserta lomba yang lolos babak penyisihan. Aku menunggu telpon rumahku berdering. Tapi tak ada tanda-tanda itu. Ya, kesempatanku kali ini tak membuatku menjadi pemenang. Aku tak mengharapkan lagi suara dering telpon rumahku.

Ruangan ini tetap berjalan seperti hari-hari biasa. Kegiatan yang berlangsung juga tetap monoton. Waktu untuk istirahat menjadi waktu yang terbaik untukku. Aku dan beberapa gadis asik membicarakan acara televisi yang semalam kami tonton di salah satu channel swasta. Saat kami masih asik bersaut-sautan menceritakan acara televisi itu, handphone di saku sebelah kanan rokku bergetar tanpa dering. Secepatnya aku merogoh saku sebelah kanan rokku dan mengambil handphone yang bergetar seru meminta untuk segera direspon olehku. Aku melihat pada layar handphone. Terlihat tulisan ”mama” berkedip di layar handphone beriringan dengan lampu layar yang menyala.

”Ada apa, Ma?” tanyaku mengajak perempuan pujaanku memulai pembicaraan.

“Ya Tuhan, benarkah? Terima kasih, Ma. Aku akan sampaikan ini padanya,” jawabku setelah mendengar kabar dari suara perempuan pujaanku.

Aku? Kini aku gadis 18 tahun yang mengisi hari-hari SMA bersama kegiatan menulisku untuk berbagai lomba dan media cetak. Aku adalah gadis yang mencoba merintis hidup dari kumpulan kata-kata yang menjadi kalimat, kalimat-kalimat menjadi paragraf, dan rangkaian paragraf yang menjadi sebuah tulisan.

Kisah hidupku dan pengalamanku tak lepas dari perannya. Peran perempuan paruh baya itu. Perempuan paruh baya itulah yang menemukan kelebihan dari banyaknya sisi kurangku. Perempuan paruh baya itulah yang mencarikan dan membawa kepuasan untuk batinku. Perempuan paruh baya nan sederhana itulah yang terus mangajakku mengejar kemenangan bagi masa depanku. Perempuan paruh baya yang selalu memotivasi sisi gelapku agar aku menemukan cahayaku. Sampai saat aku menuliskan kisahku ini, perempuan paruh baya itulah yang setia menyodorkan lembaran padaku seperti kali pertama ia menyodorkannya padaku. Banyak sekali lembaran yang ia perlihatkan padaku dan tetap berkata ”Apa kau mau mengikuti ini?”

Malam ini, aku tak melupakannya, kemarin pun aku tak lupa. Bahkan esok hari saat aku harus meninggalkan SMA Negeri i Malang, aku tak melupakan sosok perempuan setengah baya yang berjilabab itu. Sampai suatu hari saat Tuhan mengabulkan citaku, motivasi dari perempuan paruh baya itulah yang mendorongku. Aku dan kisahku bersama ia, sang guru tercinta, Bu Anik.


Fina Ghoisi Ardillah



0 komentar:

Posting Komentar