karya : Fina Ghoisi Ardillah
diterbitkan oleh Koran Pendidikan, Oktober 2008
Aku terbangun keesokan harinya karena suara mama mulai meninggi memanggil namaku. Saat itu matahari pun belum ingin menampakkan dirinya. Aku terbangun dengan mata sedikit tak ikhlas karena rasa kantuk yang menghinggap. Aku pun dengan malas mulai mengokohkan posisi dudukku di atas kasur. Pagi ini aku sepeti tak bertanggung jawab atas lagu indah yang aku lantunkan semalaman dengan berkeliling bersama warga perumahanku, sekarang malah aku sendiri yang tak ingin bangun dari tidur lelapku. Padahal sang kekasih sedang menungguku untuk bertemu dengannya pagi ini. Aku pun sedikit banyak terhanyut dengan rasa kantukku, sambil duduk di atas kasur dan menyandarkan kepalaku di dinding. Suara mama sayup-sayup terdengar di telingaku sebelah kanan. Aku pun tersadar dengan hari indah ini dan akhirnya kakiku memboyong tubuhku ke dalam kamar mandi.
Aku berjalan dengan semangat setelah kakiku beranjak pergi dari kamar mandi. Kaki panjangku ini mulai memasuki kamar bercatkan pink, itulah tempat yang selama ini membuatku betah berlama-lama di dalamnya. Itulah kamarku. Aku membuka lemari baju dan mulai sigap mengambil pakaian yang akan aku kenakan di pagi bahagia ini. Aku pun memilih baju lengan panjang berwarna putih bersih dan bergambar bunga dengan aksen elegan serta celana jeans lonceng yang sangat pantas untuk kakiku yang panjang. Aku melihat diriku di cermin dan akhirnya bibirku menghasilkan senyum yang sangat manis. Aku tak menyangka hari ini aku tampak cantik sekali dengan baju putih itu, padahal aku tak pernah lagi mengenakannya saat aku memasuki sekolah menengah atas.
Aku keluar kamar dan bergegas ke meja makan untuk meminum secangkir teh hangat yang disiapkan oleh mama. Tak ketinggalan sifat jailku pun sedikit mencubit pipi tembem adikku. Sambil sesekali meneguk teh hangat, aku berbincang dengan kakakku tentang kesannya pagi hari ini.
”Selamat pagi, Kak. Bagaimana pagimu? Apa yang kau rasakan saat kau membuka matamu hari ini?” sapaku dengan riang.
”Mmm, bagaimana ya? Hari ini aku merasa bahagia. Menyenangkan! Bagaimana dengamu?”
”Aku pun begitu. Meski dengan kantuk tapi aku merasa bahagia hari ini, Kak.”
Aku sudah siap untuk pergi bertemu dengan sang kekasih. Aku pun keluar rumah dan menutup pintu rumahku perlahan. Aku berjalan menjauhi rumahku. Sambil berjalan menuju ke tempat dimana aku bertemu dengan kekasihku, aku melantunkan lagi lagu indah itu di dalam hati. Tak terasa bibirku terus membentuk senyum.
Saat aku berjalan menuju tempat pertemuanku dengannya, aku melewati sebuah rumah milik keluarga Nasrani. Rumah itu adalah rumah tetanggaku. Rumah teman yang sebaya denganku. Rumah seorang bayi yang baru saja lahir dua hari yang lalu dari perut seorang teman sebayaku. Aku memperhatikan rumah itu dengan serius, rumah bercatkan hijau dan berpagar warna hijau juga. Rumah yang seharusnya kelihatan sangat asri dan damai. Tapi saat aku melihat dalam-dalam dengan mengikuti hatiku, aku melihat kesedihan. Ya, aku merasakan aura duka di sana.
Empat bulan lalu, perumahanku yang tentram digemparkan oleh berita seorang gadis yang saat berita itu terbang layaknya burung gereja dia sudah tidak lagi disebut gadis. Berita itu sangat menghebohkan warga. Kehebohan di otakku pun terbukti saat aku melihat seorang teman sebayaku dengan kedua mata dan sepasang kacamataku. Aku melihat dia sedang berbadan dua. Dia yang sebaya denganku berbadan dua? Ya, berbadan dua. Dan itu artinya dia hamil. Dia HAMIL.
Berita itu pun tak kunjung henti, makin hari makin ramai dibicarakan orang. Bahkan buah bibir itupun saat itu menjadi sebuah wejangan berharga bagi para remaja lainnya. Akhirnya berita pun tak hanya berkutat di dalam perumahan, bahkan warga kampung pun tahu akan hal itu. Meskipun warga kampung tak mengenal siapa dia, mereka pun tak mau ketinggalan berbuah bibir dengan warga lainya.
Empat bulan pun berlalu. Dua hari sebelum hari indah ini tiba, kabar bahwa si bayi telah lahir ke dunia menggemparkan bumi perumahanku untuk kedua kalinya. Bukan hanya kabar angin yang bertiup hampa, tapi kabar ini memang terjadi. Kabar ini fakta. Si mungil itu lahir. Aku pun tak tahu bagaimana wajah si mungil itu. Aku hanya melihat dari kejauhan, si mungil digendong oleh seorang wanita paruh baya. Warga lain pun tak tahu, karena untuk mendekati rumah itu saja mereka sudah enggan.
Saat aku tiba di tempat pertemuanku dengannya, aku terus saja memikirkan seorang teman sebayaku. Tiba-tiba saja aku meneteskan air dari kelopak mataku. Aku tak tahu rasanya hatiku seperti bergejolak. Bergejolak mengingat aku dan dia sama-sama masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Bergejolak karena memikirkan betapa berat dia menanggung beban itu. Rasa haru perlahan menyelimuti dadaku. Tapi hari ini aku harus bertemu sang kekasih. Aku harus melupakan perasaan ini.
Aku menggelar tikar di atas tanah yang kelihatannya bersih tak ada kotoran. Aku pun membuka lebar permadani tempat aku duduk untuk bertemu dengannya. Saat menunggu untuk bertemu dengannya, terlintas lagi pikiranku tentang seorang teman sebayaku itu. Otakku tiba-tiba saja mengajak hatiku bekerjasama untuk membuatku bertanya pada diriku, bagaimana kalau musibah seorang teman sebayaku itu menimpa diriku? Otakku pun sedikit mengilustrasikan jika musibah teman sebayaku itu menimpa hidupku. Hatiku ikut menggambarkan rasa sesal jika hal itu menimpa hidupku. Otak dan hatiku mulai menegangkan otot dan saraf-saraf dalam tubuhku. Mataku pun ikut bermain dalam kerjasama otak dan hatiku itu. Beberapa menit sebelum aku bertemu kekasihku, air mata turun perlahan sedikit membasahi pipiku. Aku bergegas mengambil tissue untuk menyeka air yang tak aku harapkan dan dengan cepat memoleskannya pada pipi dan mataku sebelum wanita tua di sampingku melihat.
Tiba-tiba aku mengerti kalau ragaku ini wanita. Jiwaku wanita juga. Rambutku terurai seperti wanita. Dadaku membesar seperti wanita. Aku wanita. Wanita yang harus menjaga wanitaku. Wanita yang harus menghargai wanitaku. Wanita yang harus mengerti kalau aku, raga, dan jiwaku adalah wanita. Wanita yang ada karena darah yang terus tumbuh di rahim ibuku. Wanita yang lahir ke dunia dengan penuh darah. Wanita yang matang dengan darah. Dan wanita yang kelak akan menciptakan bongkahan darah di rahim wanitaku. Tapi bongkahan darah itu tidak tumbuh untuk saat ini. Tidak saat usia sekolah menengahku. Aku harus menjaga wanitaku. Menjaganya dari jamahan tangan lelaki yang ingin menghancurkan remajaku. Aku sadar itu sangat penting.
Aku tahu kekasihku akan menjagaku. Kekasihku akan membawaku untuk selalu melihat dan merasakan bahwa kekasihku selalu ada untuk melihatku juga. Saat ini aku tahu diriku sangat berarti. Aku tak ingin masalah seburuk seorang teman sebayaku menimpaku saat ini. Meski suatu hari nanti aku akan menjalaninya, tapi aku ingin menjalaninya bukan sebagai musibah, tapi sebagi suatu kebahagiaan hidup.
Sudah waktunya. Sudah waktunya aku bertemu kekasihku. Semua orang berdiri di atas permadaninya, termasuk aku berdiri untuk kekasihku. Sebelum aku berbincang dengannya, aku pun tersenyum tanda aku siap bertemu dengannya.
”Allahu Akbar,” seru imam salat dengan suara nyaring.
Aku pun bertemu dengan kekasihku di pagi indah ini. Terima kasih Sang Kekasih, Engkau membuka hatiku di hari yang amat indah ini.
”Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaaha ilallahuallahu akbar, Allahu Akbar walillahhilham,” lantunku setelah aku bertemu denganNya.
Fina Ghoisi Ardillah
20 November 2007
Jumat, 02 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar